Kategori

Danau Bandung pada Jaman Purbakala

image

Wilayah Bandung purba dulunya berupa sebuah danau besar yang membentang mulai dari kawasan Ranca Ekek di timur hingga Padalarang di barat sepanjang 50 km dari kawasan Dago di utara hingga Soreang di selatan sepanjang 30 Km. Luas Permukaan ini hampir sama dengan 3 kali luas DKI Jakarta sekarang. Pembentukan Danau Bandung Purba ini diperkirakan mulai sekitar 105.000 - 125.000 tahu yang lalu. menurut catatan geologo yang ada, Danau Bandung (atau disebut juga Situ Hyang  ) mengalami dua kali proses pengeringan, Yang pertama dengan menerobos lava lunak daerah Cimeta, Padalarang dan kedua menerobos lava lunak di dekat Saguling sekitar Rajamandala, Proses pengeringan Danau terjadi sekitar 16.000 tahun yang lalu.

Setelah terjadinya penyusutan air danau, banyak dijumpai daerah genangan berupa rawa yang cukup luas. Tempat ini masih bisa dikenali dari nama daerah yang menggunakan nama depan ranca ( Sunda = rawa ) seperti Rancaekek, Ranca Buntu, Ranca Oray dsb. Sedangkan kawasan timur yang sebelumnya merupakan daerah dangkal meninggalkan wilayah - wilayah daratan yang menjorok ke tengah perairan atau Tanjung, yang dalam basa Sunda disebut Bojong . Ingat nama - nama daerah seperti Bojong Malaka, Bojong Koneng, Bojong Pulus, Bojong Kalong, dsb. Sebagian wilayah lain masih meninggalkan genangan air yang cukup luas ( sunda = Situ, telaga kolam yang cukup luas ), banyak nama yang menggunakan kata situ seperti Situ Garunggang daerah pelesiran, Cihampelas sekarang ) Situ Gunting, Situ Gede, Situ Saeur ( di Kopo disaeur pada masa Bupati BAndung RAA Martanagara, 1893 - 1918 ) Situ Aras ( di Karasak Utara, Situ Terate ( di Cibaduyut ), Situ Aksan ( di wilayah milik Haji Aksan, sekitar Jl Jend Sudirman sekarang yang di masa Kolonial masih berupa danau wisata indah bernama ( Westerche Park ).

Gua Pawon

Sejak masa penelitian A.C de Jong ( 1920 ), Paleontropolog Dr. G.R Von Koeningswald ( yang menemukan fosil phitechantropus di Sangiran tahun 1934) hingga W. Rothpletz pada masa pendudukan Jepang, Selalu diyakini adanya hunian manusia Prasejarah di dataran tinggi Bandung, Namun penemuan - penemuan yang dihasilkan hanya artefak yang tersebar di daerha Dago Pakar, sampai kelompok Riset Cekungan Bandung ( KRCB ) berhasil menemukan artefak batu dan sisa berbagai jenis binatang pada sebuah galian uji tahun 2000 di salah satu ruang Gua Pawon. Penemuan ini disusul denga penemuan fosil kerangka utuh Homo Sapiens ( diduga Ras Mongoloid ) pada kedalaman kurang dari 2 meter di ruang gua yang sama. Pengukuran radio karbon menunjukan fosil ini berusia 9500 tahun. Ruang Gua ini kemudian diberi nama Gua Kopi sesuai dengan sebutan yang diberikan penduduk sekitar, Sebuah bukti keberadaan hunian manusia purba (kemudian disebut Manusia Pawon) di Gua Pawon.

Yang juga menarik, bersama dengan penelitian fosil manusia ini ditemukan pula berbagai peralatan purba yang berasal dari daerah lain. Salah satu bahan pembuatan peralatan purba tersebut adalah batuan obsidian yang haya dapat ditemukan di dua tempat dataran tinggi Bandung, yaitu Kampung Nagrak ( sekitar Ladang geothermal Darajat, Barat daya Kota Garut ) dan kampung Kendan, Nagrek perbatasan Kab Bandung dan Kab Garut. Material lainnya seperti batuan kalsedon dan Jasper berasal dari daerah Garut Selatan, Gunung HAlu dan Sukabumi.

Galeri foto :

Pintu Masuk ke Gua Pawon

Tebing Gua Pawon

Pemandangan dari dinding Gua

 

Kawasan Gua Pawon

Gua Pawon baheula berada pada salah satu tepian Danau Bandung Purba. Gua ini sebenarnya lebih merupakan ceruk di dinding bukit. Gua ini memiliki banyak ruang ( sekitar 10 ruang besar). Sebenarnya ada banyak ornamen gua seperti Stalaktit,  stalagmit atau Flowstone yang pernah menghiasi Gua ini, namun sekarang kebanyakan sudah rusak dan hilang diambil oleh kolektor dan orang - orang yang tidak bertanggung jawab, Sedikit yang masih tersisa terletak di bagian dinding dalam gua yang tinggi.

Kawasan Gua Pawon terletak di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung, sekitar 25 km dari kota Bandung, Gua Pawon berada pada salah satu sisi tebing curam bagian dari Pasir Pawon dengan ketinggian 720 m dpl. Bagian dalam gua dihuni oleh ribuan kelelawar sehingga saat memasuki mulut gua akan tercium bau khas kotoran kelelawar atau guano.

Galeri Foto :

Atap Gua Pawon

Pinggiran Gua Pawon

Fosil Manusia Pawon

Taman Batu

Dipuncak Pasir Pawon terdapat " Taman batu " yang dianggap sebagian orang sebagai tempat terindah di kawasan Kars Padalaran, selain tegakan bebatuan yang berserak, juga terdapat sebuah makam yang oleh penduduk sempat dinamakan makam ibu Dorong Ranggamanik ( tidak ada keterangan lain) dipuncak bukit ini dapt ditemukan hamparan bebatuan gamping berukuran besar yang tersebar di seluruh punggungan bukit.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa beberapa fomasi batu - batu ini seperti yang disusun dengan sengaja, mirip dengan benteng pertahanan Purba. Tapi sayangnya saya tidak menemukan formasi yang konon mengingatkan pada batu bersusun dari masa megalithikum di Inggris itu. atau mungkin saya hanya melihatnya tetapi tidak mengenalinya, yang jelas bebatuan gamping yang biasanya di dasar laut, tetapi terumbu karang di puncak bukit ?? baru kali ini saya menyaksikannya.

Galeri Foto :

Batuan yang membentuk formasi

Pengrusakan oleh Penambang

Saat pendakian sekitar 40 menit dari Jalan raya Citatah

Karst

Istilah karst (Indonesia: kars) berasal dari bahasa Slavia krs (baca: kras) yang kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Jerman menjadi karst. Istilah ini dimunculkan pertama kali oleh geolog Cvijic untuk menamai suatu perbukitan di dekat Kota Trieste, Slovenia. Perbukitan ini gersang, kering, panas dan berwarna putih karena batuannya terdiri dari batugamping dan batu kapur yang unsur utamanya adalah senyawa karbonat CaCO3. Senyawa CaCo3 mudah larut jika bereaksi dengan air hujan yang kaya akan CO2. Proses pelarutan batugamping oleh air hujan yan meresap akan mengakibatkan proses abrasi yang menghasilkan bentukan-bentukan alam berupa lubang-lubang dan gua di dalam batuan. Material yang larut juga akan diendapkan di tempat lain serta membentuk endapan-endapan baru yang menjadi penghias lubang dan gua seperti stalaktit, stalagmit, atau flowstone.

Dari perspektif geologis, kawasan Pasir Pawon berada dalam rangkaian formasi batugamping yang disebut Formasi Rajamandala yang membentang dari Tagogapu sebelah utara Padalarang hingga ke Pelabuhanratu. Lebih sempit, wilayah Pasir Pawon berada dalam Kawasan Perbukitan Batugamping Citatah (K.P.B.C. atau biasa diringkas sebagai Kars Citatah) yang membentang dari Tagogapu hingga Padalarang.

Dapat disebut beberapa bukit lain yang ada di sekitar Pasir Pawon, yaitu Gunung Hawu, Pasir Pabeasan dengan Tebing 125-nya, Gunung Manik dengan Tebing 49-nya, Pasir Balukbuk, Pasir Sanghyang Tikoro, dan Pasir Guha yang semuanya berada dalam satu rangkaian atau jalur yang membujur ke arah barat. Ke arah timur terdapat rangkaian Karang Panganten, Pasir Bengkung, hingga Pasir Kamuning, Tagogapu. Kelompok bukit yang “terlepas” dari rangkaian ini dan membentuk kelompok sendiri adalah Pasir Pawon, Gunung Masigit, Pasir Leuit dan Pasir Bancana (untuk mengetahui pemetaan/lokasi persisnya, bisa tanya penduduk sekitar).

Sumber ;
- Berpetualang dengan Ridwan Hutagalung, Komunitas ALeut Bandung
- Informasi diambil dari buku Amanat Gua Pawon ( Budi Brahmantyo & T Bachtiar, ed ) terbitan kelompok Riset Cekungan Bandung 2004
- Foto oleh Edwins
Tambahan
- Penelitian Gua Pawon oleh KRCB pada awalnya terfokus pada endapan Danau Bandung Purba di Sungai Cibukur, namun berbagai temuan yang dihasilkan mendorong mereka melanjutkan ke Gua Pawon yang berada di dekatnya. Temuan-temuan berikutnya berhasil mengumpulkan berbagai tinggalan kehidupan purbakala yang meliputi sekitar 20.250 serpihan tulang belulang dan 4.050 serpihan (peralatan) batu.
Di Gua Kopi, pada kedalaman 80 cm berhasil ditemukan fosil tengkorak manusia dan pada kedalaman 120 cm dapat ditemukan fosil tulang kering dan telapak kaki manusia yang selanjutnya disebut Manusia Pawon.
- Kawasan Pawon dahulu juga merupakan salah satu habitat tumbuhan Wijayakusuma (selain di Nusakambangan), sayangnya sekarang tumbuhan itu sudah tidak ditemukan lagi di sini.
- Peta Danau Bandung Purba dari Museum Geologi

Terima kasih untuk Komunitas ALeut Bandung

 

 

 

 

Mon, 7 May 2012 @11:46


Write Comment

Name

E-mail (not published)

URL

Comment

Secret Code
Please enter the correct sum of these numbers 7+2+8

sitekno website murah siap pakai
sitekno.net social bookmarks

Copyright © 2014 korantekno · All Rights Reserved